Sabtu, 31 Januari 2026

Penutupan KKM: Menutup Perjalanan, Membuka Kenangan di Balai Desa Poncokusumo

Hari itu, Balai Desa Poncokusumo terasa berbeda. Bukan karena dekorasi yang mewah atau acara yang terlalu formal, melainkan karena suasana haru yang pelan-pelan menyelimuti setiap sudut ruangan. Setelah rangkaian panjang kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang kami jalani bersama masyarakat, tibalah pada satu titik yang tidak bisa dihindari: penutupan KKM. Bagi kami, ini bukan sekadar seremoni akhir, tetapi momen untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa perjalanan singkat ini telah meninggalkan jejak yang cukup dalam, baik bagi kami sebagai mahasiswa maupun bagi lingkungan tempat kami belajar hidup bersama masyarakat.


Penutupan KKM yang dilaksanakan di Balai Desa Poncokusumo pada tanggal 30 jam 2026 (sesuai penjadwalan kegiatan) menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa KKM, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), serta para pekerja balai desa yang sejak awal telah membersamai kami. Sebagai mahasiswa, kami berperan penuh sebagai pembuat dan pengelola acara. Mulai dari menyusun konsep, membagi tugas, hingga memastikan acara berjalan lancar, semua kami kerjakan bersama dengan semangat gotong royong. Di balik persiapan itu, ada diskusi panjang, tawa kecil karena hal-hal sepele, dan juga kepanikan singkat saat waktu terasa berjalan terlalu cepat. Namun justru di situlah kami belajar, bahwa kerja tim bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang saling menguatkan.


Proses kegiatan penutupan berlangsung dengan sederhana namun penuh makna. Sambutan demi sambutan tidak terasa kaku karena dibalut dengan cerita dan candaan ringan yang mencerminkan kedekatan kami selama KKM. Para pekerja balai desa dan DPL tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kami. Interaksi yang terbangun selama ini terasa nyata ketika obrolan mengalir tanpa jarak, seolah kami bukan mahasiswa yang sedang “bertugas”, melainkan keluarga yang sedang berpamitan. Kolaborasi yang terjalin selama KKM pun kembali teringat—mulai dari kegiatan sosial, pendampingan, hingga keseharian sederhana seperti berbincang di sela aktivitas desa.


Dampak dari kegiatan penutupan ini mungkin tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi terasa secara emosional dan sosial. Bagi masyarakat dan para pekerja balai desa, penutupan KKM menjadi penanda bahwa kebersamaan yang terbangun tidak berhenti di acara ini saja. Ada rasa saling menghargai dan pengakuan bahwa kehadiran mahasiswa membawa warna tersendiri, meski dalam waktu yang terbatas. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang refleksi. Kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang program besar, tetapi tentang kehadiran yang tulus, sikap mau mendengar, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.


Penutupan KKM juga memberi kami pelajaran penting tentang kedewasaan. Mengakhiri sesuatu yang bermakna ternyata tidak mudah. Ada rasa bangga karena berhasil menyelesaikan tanggung jawab, tetapi juga ada kesedihan karena harus berpisah. Dari sini kami menyadari bahwa pengalaman KKM bukan hanya menambah catatan kegiatan akademik, melainkan membentuk cara pandang kami sebagai manusia. Kami belajar berinteraksi dengan berbagai karakter, menghargai proses, dan memahami realitas sosial secara lebih dekat—hal-hal yang mungkin tidak kami dapatkan di ruang kelas.


Pada akhirnya, penutupan KKM di Balai Desa Poncokusumo bukanlah akhir dari segalanya. Justru kami berharap, ini menjadi awal dari hubungan baik yang terus terjaga, meski tidak lagi dalam bingkai program resmi. Ada harapan kecil agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan memberi manfaat yang lebih luas di masa depan. Bagi kami pribadi, KKM akan selalu menjadi cerita yang layak dikenang—tentang kebersamaan, pembelajaran, dan makna pengabdian yang sesungguhnya. Kami pulang dengan membawa lebih dari sekadar kenangan, tetapi juga nilai-nilai yang akan kami bawa dalam langkah berikutnya.

Jumat, 30 Januari 2026

Program senam sehat bersama masyarakat


Pagi itu, balai desa di Poncokusumo terasa sedikit berbeda. Biasanya tempat ini identik dengan rapat warga atau kegiatan administrasi desa, tapi pada 28 Januari 2026 suasananya lebih hidup. Musik senam mulai terdengar pelan, tawa saling bersahutan, dan kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) — berdiri di tengah masyarakat dengan rasa campur aduk antara antusias dan gugup. KKM bagi kami bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan belajar langsung dari kehidupan nyata. Di desa ini, kami mencoba membaur, memahami ritme warga, dan ikut menjadi bagian dari keseharian mereka. Program senam sehat bersama masyarakat menjadi salah satu langkah kecil kami untuk memulai kedekatan itu.

Sejak pagi, ibu-ibu dan bapak-bapak sudah berdatangan ke balai desa. Ada yang datang sambil bercengkerama, ada pula yang masih malu-malu berdiri di pinggir. Kami berperan sebagai pendamping sekaligus pemimpin senam, menyiapkan alat sederhana dan mengatur barisan seadanya. Tidak semua berjalan mulus. Ada momen ketika musik tiba-tiba berhenti, atau gerakan senam yang kami contohkan malah membuat peserta tertawa karena terasa “terlalu semangat” untuk pagi hari. Tapi justru di situlah letak kehangatannya. Warga tidak sungkan memberi masukan, bercanda, bahkan ikut mengarahkan irama agar lebih nyaman. Kolaborasi ini terasa alami, tanpa jarak antara mahasiswa dan masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, kami menyadari bahwa senam bukan hanya soal gerakan tubuh. Di sela-sela gerakan, obrolan ringan mengalir — tentang kesehatan, aktivitas sehari-hari, hingga cerita sederhana tentang keluarga. Ibu-ibu saling menyemangati agar tidak berhenti di tengah jalan, sementara bapak-bapak mulai ikut menyesuaikan gerakan dengan gaya mereka sendiri. Kami belajar bahwa pendekatan yang humanis jauh lebih efektif daripada sekadar mengatur. Ketika mahasiswa mau mendengar dan menyesuaikan diri, masyarakat pun merasa lebih dihargai dan terlibat penuh.

Dampak kegiatan ini terasa langsung, meski sederhana. Warga tampak lebih bersemangat dan ceria setelah senam selesai. Beberapa mengaku jarang berolahraga bersama, sehingga kegiatan ini menjadi momen menyegarkan sekaligus mempererat kebersamaan. Dari sisi kesehatan, senam pagi membantu meningkatkan kesadaran pentingnya aktivitas fisik ringan yang bisa dilakukan tanpa biaya dan alat khusus. Bagi kami sebagai mahasiswa, manfaatnya tidak kalah besar. Kami belajar memimpin dengan empati, berkomunikasi lintas usia, serta memahami bahwa pengabdian tidak selalu harus berupa program besar. Hal kecil yang konsisten justru sering meninggalkan kesan mendalam.

Kegiatan ini juga membuka ruang refleksi. Kami datang ke desa dengan niat berbagi, tetapi pulang dengan banyak pelajaran. Masyarakat Poncokusumo mengajarkan arti kebersamaan, kesederhanaan, dan keikhlasan dalam beraktivitas. Senam sehat ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam, namun dampaknya terasa lebih panjang karena membangun kebiasaan dan hubungan. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, baik oleh masyarakat sendiri maupun oleh adik-adik KKM berikutnya, sebagai bagian dari gaya hidup sehat bersama.

Menutup hari itu, kami menyadari bahwa KKM bukan tentang seberapa banyak program yang dijalankan, melainkan seberapa dalam makna yang tertinggal. Di balai desa yang sederhana, lewat gerakan senam dan tawa bersama, kami merasa benar-benar menjadi bagian dari masyarakat. Harapan kami sederhana: semoga langkah kecil ini menjadi awal dari kebiasaan baik, dan semoga semangat kebersamaan yang tercipta tetap hidup, bahkan setelah masa KKM kami berakhir.

Rabu, 28 Januari 2026

Belajar Bersama UMKM: Sosialisasi Sertifikasi Halal dari Desa untuk Keberlanjutan Usaha


Siang itu, Balai Desa di wilayah Poncokusumo terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak matahari mulai naik, satu per satu warga berdatangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Kami, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bekerja sama dengan pihak LP2M berdiri di antara mereka bukan sebagai “ahli”, tetapi sebagai teman belajar yang ingin berbagi. Suasana desa yang tenang, sapaan ramah warga, dan aroma kopi yang sempat tersaji sebelum acara dimulai membuat kegiatan hari itu terasa hangat dan membumi. Inilah awal dari kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Halal bagi UMKM yang kami laksanakan pada 26 Januari 2026.

Kegiatan ini berangkat dari proses penjaringan UMKM yang telah dilakukan di seluruh wilayah Poncokusumo. Dari situ, kami melihat satu benang merah yang sama: semangat berusaha masyarakat sangat tinggi, tetapi masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya sertifikasi halal, baik dari sisi kepercayaan konsumen maupun keberlanjutan usaha. Melalui sosialisasi ini, kami ingin membuka ruang diskusi yang sederhana, jujur, dan mudah dipahami, tanpa kesan menggurui. Kami berperan sebagai fasilitator sekaligus penyelenggara, memastikan materi tersampaikan dengan bahasa yang dekat dengan realitas sehari-hari pelaku usaha.

Proses kegiatan berjalan secara dialogis. Tidak hanya pemaparan materi, tetapi juga sesi tanya jawab yang justru menjadi bagian paling hidup. Banyak pelaku UMKM berbagi cerita tentang tantangan mereka, mulai dari keterbatasan informasi, kekhawatiran biaya, hingga kebingungan soal alur pengurusan sertifikasi halal. Di sinilah dinamika lapangan terasa nyata. Kami belajar mendengarkan, menyesuaikan bahasa, dan menyederhanakan konsep agar benar-benar relevan. Kolaborasi dengan perangkat desa turut memperkuat kegiatan ini, menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan saling percaya.

Dampak dari kegiatan ini mulai terasa bahkan sebelum acara berakhir. Beberapa pelaku UMKM mengaku baru memahami bahwa sertifikasi halal bukan sekadar label, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap konsumen dan nilai tambah bagi usaha mereka. Ada rasa percaya diri yang tumbuh, seolah mereka melihat peluang baru untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang nyata. Kami tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memahami kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara langsung.

Lebih dari sekadar sosialisasi, kegiatan ini menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik di lapangan. Kami menyadari bahwa perubahan tidak selalu datang secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran kecil yang terus dirawat. Melihat antusiasme warga dan keterbukaan mereka terhadap diskusi menjadi pengalaman yang berharga dan membekas.

Menutup kegiatan hari itu, kami pulang dengan perasaan penuh syukur. KKM bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi tentang membangun relasi, kepercayaan, dan empati. Harapan kami, sosialisasi ini bisa menjadi langkah awal bagi UMKM di Poncokusumo untuk melangkah menuju usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan bahwa pengabdian terbaik adalah hadir, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dan dari balai desa sederhana itu, kami belajar arti kontribusi yang sesungguhnya.

Senin, 26 Januari 2026

Belajar Mengajar, Mengajar untuk Belajar: Cerita KKM di TPQ Roudlotul Mu’alimin


Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) menjadi salah satu momen yang paling kami nantikan selama masa perkuliahan. Bukan hanya karena kami turun langsung ke tengah masyarakat, tetapi karena di sanalah kami belajar memahami realitas kehidupan secara lebih dekat. Salah satu kegiatan yang paling berkesan selama pelaksanaan KKM pada 2–24 Januari adalah "Asistensi Mengajar Al-Qur’an di TPQ Roudlotul Mu’alimin", yang dilaksanakan di balai desa. Setiap sore, suasana balai desa berubah menjadi ruang belajar yang penuh dengan suara anak-anak mengaji, tawa kecil, dan semangat yang tulus.

Sejak hari pertama, kami disambut dengan hangat oleh para pengajar TPQ dan masyarakat sekitar. Anak-anak TPQ Roudlotul Mu’alimin datang dengan wajah polos dan antusias, membawa iqra’ atau mushaf Al-Qur’an mereka masing-masing. Sebagai mahasiswa yang berperan sebagai pengajar, kami berusaha menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran yang sudah ada. Tidak jarang kami harus belajar kembali, mengulang dasar-dasar tajwid, makhraj huruf, hingga cara menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Di sinilah kami sadar bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga soal kesabaran dan ketelatenan.

Proses kegiatan berjalan secara bertahap dan penuh dinamika. Ada anak-anak yang sudah lancar membaca Al-Qur’an, ada pula yang masih belajar mengenal huruf hijaiyah. Kami membagi peran secara fleksibel, saling membantu agar setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup. Kolaborasi dengan ustaz dan ustazah TPQ sangat membantu kami dalam memahami karakter masing-masing murid. Masyarakat sekitar pun memberikan dukungan penuh, mulai dari menyediakan tempat hingga memastikan anak-anak hadir tepat waktu. Interaksi sederhana seperti berbincang dengan orang tua murid setelah mengaji menjadi pengalaman berharga yang mempererat hubungan kami dengan warga desa.

Dampak dari kegiatan ini terasa dari dua arah. Bagi anak-anak TPQ, kehadiran kami menambah semangat belajar dan variasi dalam proses mengaji. Mereka menjadi lebih berani membaca dengan suara lantang dan tidak ragu bertanya ketika menemui kesulitan. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang refleksi yang nyata. Kami belajar berkomunikasi dengan anak-anak, memahami kondisi sosial masyarakat, serta menyadari bahwa ilmu yang kami miliki, sekecil apa pun, dapat memberi manfaat jika dibagikan dengan tulus. Pengalaman ini juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan empati yang tidak selalu kami dapatkan di ruang kelas.

Menjelang akhir kegiatan KKM, ada perasaan haru yang sulit diungkapkan. Balai desa yang awalnya terasa asing kini menjadi tempat penuh kenangan. Kami berharap kegiatan asistensi mengajar Al-Qur’an ini dapat terus berlanjut, baik oleh mahasiswa KKM berikutnya maupun oleh masyarakat setempat. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan kami bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam bentuk besar. Terkadang, duduk bersama anak-anak, membimbing mereka membaca ayat demi ayat, justru menjadi bentuk pengabdian yang paling bermakna.

Silaturahmi ke Tokoh Masyarakat setempat


Berada di tengah-tengah masyarakat melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) selalu menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar soal menjalankan program, tetapi juga tentang belajar memahami manusia dan lingkungannya. Di hari-hari awal pelaksanaan KKM, kami menyadari bahwa sebelum melangkah lebih jauh dengan berbagai kegiatan, ada satu hal mendasar yang perlu dibangun terlebih dahulu: hubungan yang baik. Dari kesadaran itulah kegiatan "Silaturahmi ke Tokoh Masyarakat setempat" menjadi langkah awal kami. Pada 24 Desember 2026, suasana rumah-rumah tokoh masyarakat yang kami kunjungi terasa hangat dan bersahaja, mencerminkan karakter lingkungan yang ramah dan terbuka terhadap kehadiran kami sebagai mahasiswa KKM.

Kegiatan silaturahmi ini kami lakukan dengan mendatangi langsung rumah para tokoh masyarakat di wilayah lokasi KKM. Tidak ada panggung, tidak ada mikrofon, hanya pertemuan sederhana dengan duduk bersama, berbincang, dan saling memperkenalkan diri. Sebagai mahasiswa, peran kami lebih banyak mendengarkan. Kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan, mengenalkan program KKM secara umum, lalu membuka ruang dialog agar para tokoh masyarakat dapat berbagi pandangan, cerita, dan harapan mereka terhadap keberadaan kami di desa. Obrolan mengalir ringan, kadang diselingi canda, kadang berubah menjadi diskusi serius tentang kondisi sosial, kebiasaan warga, hingga potensi desa yang bisa dikembangkan bersama.

Dalam proses silaturahmi tersebut, kami merasakan betul bagaimana keterbukaan masyarakat menjadi kunci utama kelancaran kegiatan. Tokoh-tokoh masyarakat menyambut kami dengan penuh keramahan, bahkan beberapa di antaranya dengan spontan mengajak kami menikmati hidangan sederhana sebagai simbol penerimaan. Dari mereka, kami belajar tentang nilai gotong royong yang masih kuat, cara berkomunikasi yang santun, serta pentingnya menghargai adat dan kebiasaan setempat. Kolaborasi yang terbangun bukan dalam bentuk kerja formal, melainkan kepercayaan. Kami merasa tidak lagi sekadar “tamu”, tetapi mulai dianggap sebagai bagian dari lingkungan yang sedang belajar dan mengabdi.

Dampak dari kegiatan silaturahmi ini terasa cukup signifikan, meskipun bentuknya tidak selalu kasat mata. Bagi masyarakat, kehadiran mahasiswa yang datang dengan niat baik dan sikap terbuka menumbuhkan rasa aman dan nyaman. Komunikasi menjadi lebih mudah, sehingga kegiatan KKM selanjutnya dapat berjalan dengan dukungan dan arahan dari para tokoh masyarakat. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya membangun hubungan sosial sebelum menjalankan program apa pun. Kami belajar bahwa keberhasilan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh ide yang bagus, tetapi juga oleh cara kita hadir dan berinteraksi dengan masyarakat.

Menutup rangkaian silaturahmi ini, kami membawa pulang banyak refleksi pribadi. Kami menyadari bahwa pengabdian sejatinya dimulai dari sikap rendah hati dan kemauan untuk mendengarkan. Harapan kami, hubungan baik yang terjalin melalui silaturahmi ini tidak berhenti hanya selama masa KKM berlangsung, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama dan komunikasi yang berkesinambungan. Kesan hangat dari pertemuan sederhana di rumah-rumah tokoh masyarakat tersebut akan selalu kami ingat sebagai fondasi awal perjalanan KKM kami, sekaligus pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang penuh makna.

Seminar Pergaulan Bebas bagi Siswa MTS Mathla'ul Huda sebagai Upaya Pembentukan Karakter


Berada di Desa Wangkal Lor, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi pengalaman yang tidak akan mudah saya lupakan selama mengikuti Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Desa ini menyambut kami dengan suasana yang tenang, udara sejuk khas lereng pegunungan, serta masyarakat yang ramah dan terbuka. Sejak hari pertama, kami menyadari bahwa KKM bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga ruang belajar nyata tentang kehidupan sosial, nilai kebersamaan, dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Dari sekian rangkaian kegiatan yang kami rancang, salah satu yang paling berkesan adalah Seminar Pergaulan Bebas bagi Siswa MTS Mathla'ul Huda sebagai Upaya Pembentukan Karakter.

Kegiatan seminar ini dilaksanakan pada tanggal 12, 19, dan 26 Januari, bertempat di lingkungan MTS Mathla'ul Huda. Sasaran utama kegiatan ini adalah para pelajar tingkat madrasah tsanawiyah, yang berada pada fase usia remaja awal. Kami melihat fase ini sebagai masa krusial, di mana rasa ingin tahu tinggi sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang cukup tentang batasan pergaulan dan nilai moral. Berangkat dari keresahan tersebut, kami bersama pihak sekolah sepakat menyelenggarakan seminar yang tidak menggurui, tetapi mengajak siswa untuk berdialog, berpikir, dan merefleksikan pilihan-pilihan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan ini, kami berperan sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pemateri. Suasana seminar dibuat santai namun tetap fokus. Alih-alih ceramah satu arah, kami membuka ruang diskusi, tanya jawab, serta simulasi kasus yang dekat dengan realitas siswa. Awalnya, beberapa siswa terlihat malu-malu untuk berbicara. Namun seiring berjalannya waktu, kelas mulai hidup. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga pertanyaan kritis mulai bermunculan. Di situlah kami merasakan dinamika lapangan yang sesungguhnya—bahwa pendekatan yang humanis jauh lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian materi.

Kolaborasi dengan guru dan pihak sekolah juga menjadi kunci kelancaran kegiatan ini. Para guru tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi ikut terlibat dalam diskusi dan memberi penguatan nilai-nilai karakter yang relevan dengan lingkungan sekolah dan keluarga siswa. Dukungan ini membuat pesan yang kami sampaikan tidak berhenti di ruang seminar saja, tetapi diharapkan dapat berlanjut dalam keseharian siswa, baik di sekolah maupun di rumah.

Dampak dari kegiatan ini terasa secara perlahan namun nyata. Para siswa mulai berani menyampaikan pendapat tentang pergaulan yang sehat, memahami risiko dari pergaulan bebas, serta menyadari pentingnya menjaga diri dan karakter. Bagi masyarakat sekolah, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter membutuhkan kerja bersama, tidak hanya mengandalkan kurikulum formal. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini mengasah empati, kemampuan komunikasi, serta kepekaan sosial yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas kampus.

Menutup rangkaian kegiatan ini, saya pribadi merasa KKM telah mengajarkan arti hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat. Seminar ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan diharapkan dapat tumbuh lebih lama. Harapan kami, kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh sekolah maupun generasi KKM berikutnya, dengan tema-tema yang relevan dengan kebutuhan remaja. Dari Desa Wangkal Lor, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang hal besar, tetapi tentang niat tulus, keterlibatan nyata, dan keberanian untuk mendengarkan.

Minggu, 25 Januari 2026

Festival Anak Sholeh


Desa Wangkal Lor, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, kembali menjadi ruang belajar yang hangat bagi kami selama menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Desa ini tidak hanya menawarkan udara sejuk dan suasana pedesaan yang tenang, tetapi juga kehidupan sosial yang akrab dan penuh kebersamaan. Salah satu momen yang paling berkesan selama KKM adalah keterlibatan kami dalam Festival Anak Sholeh Yayasan Mathla’ul Huda dalam rangka memperingati Isra Mi’raj, yang dilaksanakan pada 25 Januari 2026. Sejak beberapa hari sebelum acara puncak, semangat para pelajar sudah terasa melalui aktivitas kreatif yang mereka lakukan, salah satunya membuat payung hias sebagai simbol keceriaan dan ekspresi diri.

Persiapan festival dimulai jauh sebelum hari H. Kami mendampingi para pelajar Yayasan Mathla’ul Huda saat mereka menuangkan ide-ide kreatif ke atas payung polos yang kemudian disulap menjadi payung hias penuh warna. Ada yang menggambar masjid, bintang, kaligrafi sederhana, hingga simbol-simbol keislaman yang mereka pahami dengan cara mereka sendiri. Suasana kelas berubah menjadi ruang seni yang hidup. Tawa, cerita polos anak-anak, dan tangan-tangan kecil yang sibuk mewarnai menjadi pemandangan yang sederhana namun menghangatkan hati. Sebagai pendamping, kami tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga memberi semangat agar mereka percaya diri dengan hasil karyanya.

Pada hari pelaksanaan festival, desa terasa berbeda. Sejak pagi, para pelajar berkumpul dengan wajah ceria sambil membawa payung hias hasil kreasi mereka. Kegiatan diawali dengan pawai berkeliling desa, di mana anak-anak berjalan bersama dengan tertib, diiringi senyum bangga dan antusiasme yang sulit disembunyikan. Warga desa menyambut hangat, ada yang keluar rumah sekadar melambaikan tangan, ada pula yang mengabadikan momen dengan ponsel. Pawai sederhana ini menjadi bentuk perayaan yang dekat dengan masyarakat, sekaligus sarana mengenalkan nilai-nilai religius dan kebersamaan kepada lingkungan sekitar.

Kolaborasi antara pihak yayasan, mahasiswa KKM, dan masyarakat desa menjadi kunci suksesnya kegiatan ini. Guru-guru dan pengurus yayasan memberi arahan, kami mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung, sementara masyarakat memberikan dukungan moral yang membuat suasana semakin meriah. Di lapangan, tentu ada dinamika yang muncul. Anak-anak yang kelelahan, payung yang rusak, atau barisan yang mulai tidak rapi menjadi tantangan kecil yang justru mengajarkan kami tentang kesabaran dan kerja sama. Semua itu teratasi dengan komunikasi sederhana dan saling pengertian.

Dampak dari Festival Anak Sholeh ini terasa bukan hanya pada hari pelaksanaan. Bagi para pelajar, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk mengekspresikan kreativitas, belajar percaya diri, dan memahami makna peringatan Isra Mi’raj dengan cara yang menyenangkan. Mereka belajar bahwa perayaan keagamaan tidak selalu harus kaku, tetapi bisa dikemas secara kreatif dan penuh makna. Bagi masyarakat, kegiatan ini mempererat hubungan sosial dan menghadirkan suasana desa yang hidup dan harmonis. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, pendampingan ini mengajarkan arti hadir dan membersamai, bukan sekadar mengatur atau mengarahkan.

Menutup rangkaian kegiatan tersebut, saya pribadi merasa Festival Anak Sholeh ini menjadi salah satu wujud nyata pengabdian yang sederhana namun bermakna. Ada rasa lelah, tetapi terbayar oleh senyum anak-anak dan kebanggaan mereka membawa payung hias keliling desa. Harapan kami, kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di tahun-tahun berikutnya, dengan melibatkan lebih banyak kreativitas dan partisipasi masyarakat. Dari Desa Wangkal Lor, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang program besar, tetapi tentang kehadiran yang tulus, kebersamaan, dan kenangan baik yang tumbuh dari hal-hal sederhana.

Sabtu, 24 Januari 2026

Kegiatan Asistensi Mengajar di tiga lembaga formal


Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menyambut kami dengan suasana yang sederhana namun penuh kehangatan. Di pagi hari, udara terasa sejuk, anak-anak berangkat sekolah dengan langkah kecil penuh semangat, dan senyum warga selalu hadir di setiap sapaan. Di tempat inilah kami menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), sebuah perjalanan belajar yang tidak hanya tentang menerapkan ilmu, tetapi juga tentang memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Salah satu kegiatan yang paling membekas bagi kita adalah Kegiatan Asistensi Mengajar di tiga lembaga formal, yaitu MI Mathla'ul Huda, RA Mathla'ul Huda, dan SDN 2 Argosuko.

Kegiatan asistensi mengajar ini dilaksanakan pada tanggal 5 - 23 Januari, dengan sasaran utama pelajar tingkat RA, MI, dan SD. Sejak awal, kami menyadari bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang penuh warna, rasa ingin tahu, dan energi yang tidak pernah habis. Peran kami sebagai mahasiswa KKM dalam kegiatan ini adalah sebagai guru pendamping yang terlibat langsung dalam proses belajar-mengajar. Bukan hanya membantu menyampaikan materi, tetapi juga hadir sebagai teman belajar yang berusaha memahami karakter dan kebutuhan setiap anak.

Hari-hari mengajar dimulai sejak pagi. Di RA Mathla'ul Huda, suasana kelas dipenuhi tawa polos dan cerita-cerita sederhana dari anak-anak. Mengajarkan huruf, angka, dan lagu-lagu edukatif menjadi tantangan tersendiri, karena dibutuhkan kesabaran dan kreativitas agar mereka tetap fokus. Di MI Mathla'ul Huda dan SDN 2 Argosuko, tantangannya berbeda. Anak-anak sudah mulai kritis dan berani bertanya. Kami mencoba menciptakan suasana belajar yang interaktif, mengajak mereka berdiskusi ringan, bermain sambil belajar, dan tidak takut untuk mencoba hal baru.

Kolaborasi dengan guru-guru setempat menjadi bagian penting dari kelancaran kegiatan ini. Para guru menyambut kami dengan terbuka, membimbing kami memahami kondisi kelas, serta memberi kepercayaan untuk terlibat langsung dalam pembelajaran. Dari mereka, kami belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga soal kepekaan, keteladanan, dan ketulusan dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Interaksi dengan orang tua dan masyarakat sekitar juga memperkaya pengalaman kami, karena kami melihat langsung bagaimana pendidikan menjadi harapan besar bagi masa depan anak-anak di desa ini.

Dampak dari kegiatan asistensi mengajar ini terasa dari kedua sisi. Bagi siswa, kehadiran kami memberi variasi baru dalam pembelajaran. Anak-anak terlihat lebih antusias, berani mencoba, dan tidak ragu berinteraksi. Meski waktu kebersamaan kami terbatas, kami berharap semangat belajar yang tumbuh dapat terus terjaga. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga. Kami belajar mengelola kelas, berkomunikasi dengan anak-anak, serta memahami realitas pendidikan di tingkat dasar secara nyata, bukan sekadar teori di bangku kuliah.

Menjelang berakhirnya rangkaian kegiatan, saya menyadari bahwa asistensi mengajar ini bukan hanya tentang membantu sekolah, tetapi juga tentang membentuk diri kami sendiri. Ada rasa lelah, tentu saja, tetapi jauh lebih besar rasa syukur dan bahagia ketika melihat senyum anak-anak yang bersemangat belajar. Harapan kami, kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi program-program pendidikan lainnya di Desa Wangkal Lor. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pengabdian paling bermakna sering kali hadir dalam hal-hal sederhana: hadir di kelas, mendengarkan, dan menemani anak-anak meraih mimpi mereka, selangkah demi selangkah.

Jumat, 23 Januari 2026

Pendampingan Pembuatan NIB untuk UMKM: Belajar Bertumbuh Bersama Pelaku Usaha Desa



Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) selalu punya caranya sendiri untuk mengajarkan kami tentang kehidupan nyata. Selama periode 17–24 Januari 2026, kami menjalani KKM di Desa Keden dan Wangkal, Kecamatan Poncokusumo. Desa ini menyambut kami dengan udara sejuk, hamparan aktivitas warga yang bersahaja, serta geliat UMKM yang tumbuh perlahan namun penuh potensi. Sejak hari-hari awal, kami menyadari bahwa banyak pelaku usaha di desa ini sudah produktif, tetapi belum seluruhnya tersentuh oleh aspek legalitas usaha. Dari situlah kegiatan Pendampingan Pembuatan NIB untuk UMKM kami mulai. Kami berkunjung dari satu UMKM ke UMKM lain di seluruh desa, menyapa, berbincang, dan menawarkan pendampingan secara langsung, dengan pendekatan yang santai namun tetap informatif.

Proses pendampingan ini bukan sekadar soal mengisi data dan mengakses sistem OSS. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang interaksi yang hangat antara mahasiswa dan masyarakat. Kami mendatangi warung kelontong, usaha olahan makanan rumahan, pengrajin kecil, hingga pedagang musiman. Setiap kunjungan selalu diawali dengan obrolan ringan—tentang usaha yang dirintis, tantangan yang dihadapi, dan harapan mereka ke depan. Dari situ, kami mulai menjelaskan apa itu Nomor Induk Berusaha (NIB), manfaatnya, serta bagaimana legalitas bisa membuka akses yang lebih luas, mulai dari bantuan pemerintah hingga peluang pengembangan usaha.

Di lapangan, dinamika tentu tak selalu mulus. Ada pelaku UMKM yang antusias, ada pula yang ragu karena merasa proses administrasi itu rumit dan memakan waktu. Beberapa terkendala dokumen, sebagian lagi belum terbiasa menggunakan teknologi digital. Di sinilah peran kami sebagai pendamping benar-benar diuji. Kami belajar bersabar, menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, dan menyesuaikan ritme dengan kondisi masing-masing pelaku usaha. Proses pendampingan sering kali dilakukan sambil duduk di teras rumah, di sela-sela aktivitas produksi, bahkan di tengah kesibukan melayani pembeli. Namun justru di situlah kami merasakan kolaborasi yang nyata—bukan sebagai “mahasiswa yang mengajari”, tetapi sebagai teman diskusi yang berjalan bersama.

Dampak dari kegiatan ini mulai terasa seiring berjalannya waktu. Beberapa pelaku UMKM yang awalnya ragu akhirnya berhasil memiliki NIB atas nama usahanya sendiri. Raut wajah lega dan bangga ketika proses selesai menjadi momen yang sulit dilupakan. Bagi masyarakat, NIB bukan lagi sekadar istilah administratif, melainkan pintu awal menuju pengembangan usaha yang lebih terarah. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini membuka perspektif baru tentang arti pemberdayaan. Kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam skala besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal praktis yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Menjelang akhir kegiatan, kami banyak melakukan refleksi bersama. Pendampingan pembuatan NIB ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa berkelanjutan jika terus dilanjutkan oleh pihak desa dan pelaku UMKM sendiri. Kami berharap apa yang telah dimulai selama KKM ini tidak berhenti ketika masa pengabdian kami selesai. Lebih dari itu, kami membawa pulang pelajaran berharga tentang empati, komunikasi, dan makna hadir di tengah masyarakat. Desa Keden dan Wangkal bukan hanya lokasi KKM bagi kami, tetapi ruang belajar yang membentuk cara pandang kami sebagai mahasiswa dan calon bagian dari masyarakat itu sendiri.

x

Selasa, 13 Januari 2026

Ratibul Haddad sebagai Jalan Spiritualitas dan Ilmu

Wejangan “Menuntut Ilmu” dalam Kebersamaan KKM 27 Argantara

Kebersamaan tidak selalu tentang bekerja di siang hari, tetapi juga tentang menguatkan batin di malam yang hening. Hal inilah yang tercermin dalam kegiatan Ratibul Haddad yang diikuti oleh seluruh anggota KKM 27 Argantara. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan, menjadi ruang untuk menenangkan hati sekaligus mempererat ikatan spiritual antaranggota.

Pembacaan Ratibul Haddad ini dihaturkan oleh Gus Bidin, selaku penggagas dan penanggung jawab acara. Dengan lantunan dzikir yang teratur dan penuh penghayatan, suasana kegiatan terasa syahdu dan sakral. Setiap kalimat dzikir seolah menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat harus selalu disertai dengan kekuatan ruhani.

Setelah rangkaian Ratibul Haddad selesai, acara dilanjutkan dengan wejangan dari Ketua Koordinator Desa KKM 27 Argantara. Wejangan tersebut mengangkat tema yang sangat relevan bagi mahasiswa dan generasi muda, yaitu “Menuntut Ilmu.”

Dalam nasihatnya, beliau menyampaikan pesan mendalam yang bersumber dari nilai-nilai keislaman dan kearifan klasik:

“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China. Namun jangan lupa, setelah kalian mendapatkan ilmu, kembalilah ke desa kalian untuk mengamalkan dan memberi manfaat.”

Pesan ini menjadi pengingat bahwa ilmu bukan sekadar untuk prestise pribadi atau pencapaian akademik semata. Ilmu adalah amanah yang harus kembali kepada masyarakat, terutama desa sebagai akar kehidupan dan tempat awal pengabdian. Menuntut ilmu sejauh apa pun tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan kesadaran untuk berbagi dan mengabdi.

Wejangan tersebut menegaskan bahwa mahasiswa KKM bukan hanya agen perubahan secara sosial, tetapi juga penjaga nilai moral dan spiritual. Ilmu dan akhlak harus berjalan seiring, agar pengabdian yang dilakukan tidak kehilangan arah dan tujuan.

Kegiatan Ratibul Haddad ini pun menjadi penutup yang sempurna bagi agenda hari itu—menyatukan dzikir, ilmu, dan pengabdian dalam satu bingkai kebersamaan. Semoga nilai-nilai yang tertanam dari kegiatan ini terus hidup, tidak hanya selama masa KKM, tetapi juga dalam perjalanan hidup setiap anggota KKM 27 Argantara.

Kerja Bakti sekaligus Pengecatan Gapura Makam


Pagi itu, 11 Januari 2026, udara di kawasan makam umum Poncokusumo terasa lebih sejuk dari biasanya. Bukan cuma karena cuaca pegunungan yang memang ramah, tapi juga karena ada semangat kebersamaan yang pelan-pelan tumbuh sejak kami tiba. Sebagai mahasiswa peserta Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), kami datang bukan dengan jas almamater dan jargon pengabdian yang kaku, melainkan dengan niat sederhana: ikut hadir, ikut membantu, dan ikut merawat ruang yang bermakna bagi warga. Gapura makam, yang selama ini menjadi penanda sekaligus wajah awal kawasan pemakaman, menjadi titik awal pengabdian kecil kami di desa ini.

Kegiatan kerja bakti sekaligus pengecatan gapura makam ini sebenarnya lahir dari obrolan santai dengan warga. Dalam beberapa hari awal KKM, kami sering duduk bersama masyarakat, mendengarkan cerita-cerita ringan, termasuk soal kondisi makam yang mulai kusam. Dari situ, ide ini tumbuh alami. Tidak ada proposal panjang, tidak ada jarak “kami” dan “mereka”. Kami bersepakat bahwa gapura makam layak dipercantik, bukan sekadar soal estetika, tapi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan ruang sakral yang sering dikunjungi warga.

Hari pelaksanaan pun terasa seperti reuni besar. Warga datang membawa alat masing-masing, ada yang membawa kuas, ada yang menyiapkan air, bahkan ada ibu-ibu yang sibuk menyiapkan minuman sederhana. Kami, para mahasiswa, mengambil peran sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pengeksekusi. Ada yang mengatur pembagian tugas, ada yang membantu membersihkan lumut dan debu di permukaan gapura, dan ada juga yang langsung turun tangan mengecat bersama warga. Tawa ringan, candaan soal cat yang belepotan di tangan, sampai diskusi kecil soal warna cat membuat suasana kerja bakti terasa hangat dan cair.

Dinamika di lapangan justru menjadi bagian paling berkesan. Tidak semuanya berjalan mulus, ada cat yang kurang merata, ada perbedaan pendapat soal detail kecil, tapi semua diselesaikan dengan musyawarah sederhana. Kami belajar bahwa kolaborasi tidak selalu harus rapi, yang penting saling mendengar dan saling menghargai. Di sela-sela kegiatan, kami juga banyak belajar dari cerita warga tentang sejarah makam dan nilai-nilai lokal yang selama ini dijaga. Dari situ, kami sadar bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengecat gapura, tapi juga merawat ingatan kolektif.

Hasilnya mungkin terlihat sederhana: gapura makam tampak lebih bersih, cerah, dan layak dipandang. Namun dampaknya terasa lebih luas. Bagi masyarakat, kegiatan ini menumbuhkan kembali rasa memiliki dan kebersamaan. Warga merasa ruang bersama mereka diperhatikan dan dirawat secara gotong royong. Bagi kami sebagai mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar nyata tentang pengabdian. Kami belajar memimpin tanpa mendominasi, membantu tanpa merasa paling tahu, dan bekerja bersama tanpa sekat status.

Secara personal, kegiatan ini memberi kami pelajaran penting tentang makna hadir di tengah masyarakat. KKM bukan tentang seberapa besar program yang dibuat, tapi seberapa dalam interaksi yang terjalin. Melalui kerja bakti dan pengecatan gapura makam ini, kami merasakan bahwa kontribusi kecil, jika dilakukan bersama, bisa memberi dampak yang terasa. Ada kepuasan sederhana saat melihat warga tersenyum melihat hasil kerja bersama, dan ada rasa hangat saat kami duduk bersama di akhir kegiatan, menikmati teh hangat sambil berbagi cerita.

Menutup kegiatan ini, kami berharap semangat gotong royong yang tercipta tidak berhenti di hari itu saja. Semoga gapura yang telah dipercantik bisa menjadi simbol kebersamaan, dan semoga kehadiran kami sebagai mahasiswa KKM benar-benar meninggalkan kesan positif. Bagi kami, Poncokusumo bukan lagi sekadar lokasi KKM, tapi ruang belajar kehidupan yang akan selalu kami ingat. Sebuah pengingat bahwa pengabdian sejati sering kali lahir dari hal-hal sederhana, dilakukan dengan tulus, dan dijalani bersama.

Selasa, 06 Januari 2026

Seminar Etika dan Moral bagi Siswa MI Mathla’ul Huda sebagai Upaya Pembentukan Karakter

Kelompok 27 Argantara melaksanakan kegiatan seminar dengan mengangkat tema “Etika dan Moral” di MI Mathla’ul Huda sebagai bagian dari rangkaian program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moral kepada peserta didik sejak dini sebagai fondasi penting dalam pembentukan karakter dan sikap sosial siswa di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Pelaksanaan seminar dilakukan secara bertahap dengan sistem satu hari satu tingkat kelas. Dalam satu hari, kegiatan diikuti oleh seluruh kelas dalam satu tingkat yang sama, seperti seluruh kelas 1 (1A, 1B, dan 1C), kemudian dilanjutkan ke tingkat berikutnya pada hari selanjutnya. Pola ini diterapkan agar pelaksanaan kegiatan lebih terstruktur, efektif, serta menyesuaikan dengan karakteristik usia dan tingkat pemahaman siswa.

Materi seminar disampaikan dengan pendekatan yang komunikatif dan mudah dipahami oleh siswa. Pembahasan meliputi nilai-nilai sopan santun, sikap saling menghormati, tanggung jawab, kejujuran, serta pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dilengkapi dengan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan aktivitas siswa di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Para siswa mengikuti seminar dengan penuh perhatian, aktif menjawab pertanyaan, serta berpartisipasi dalam sesi interaktif yang disampaikan oleh mahasiswa KKM. Kegiatan ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendidik, sehingga pesan moral yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa.

Melalui kegiatan seminar etika dan moral ini, Kelompok 27 Argantara berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam mendukung pendidikan karakter di MI Mathla’ul Huda. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran siswa akan pentingnya perilaku beretika dan bermoral, sehingga nilai-nilai tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Khataman Al-Qur'an


Subuh itu, Desa Poncokusumo masih diselimuti udara dingin khas pegunungan. Kabut tipis menggantung pelan di antara rumah-rumah warga, sementara suara adzan Subuh menggema lembut dari musholla setempat. Di momen hening itulah, kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) — melangkahkan kaki menuju musholla dengan hati yang terasa lebih tenang dari biasanya. Kegiatan Khataman Al-Qur’an yang kami rencanakan sejak awal KKM akhirnya tiba, bukan sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai ruang kebersamaan dan perenungan di tengah pengabdian kami kepada masyarakat.

Sejak sebelum Subuh, satu per satu mahasiswa sudah berkumpul. Ada yang membawa mushaf, ada yang masih menahan kantuk, tapi semuanya datang dengan niat yang sama. Musholla desa Poncokusumo pagi itu terasa lebih hidup. Lampu-lampu kecil menyala, sajadah tersusun rapi, dan suasana khusyuk mulai terbangun. Kegiatan ini memang ditujukan untuk internal mahasiswa KKM, namun tetap terasa menyatu dengan denyut kehidupan desa. Kami mengaji bersama, saling menyimak, saling mengingatkan, dan merasakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dihidupi, apalagi di tengah proses belajar bermasyarakat seperti KKM.

Proses khataman berjalan sederhana, tanpa protokol yang rumit. Setiap mahasiswa mengambil bagian sesuai kemampuan, membaca dengan tartil, dan berusaha menjaga kekhusyukan. Tidak ada target cepat selesai, yang kami jaga justru ketenangan suasana. Di sela-sela lantunan ayat suci, sesekali terdengar suara alam pagi—ayam berkokok, angin yang berdesir pelan—seolah ikut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ini. Meskipun sasaran kegiatan adalah mahasiswa KKM sendiri, kehadiran warga yang ikut shalat Subuh berjamaah memberi nuansa hangat tersendiri. Senyum dan sapaan mereka setelah shalat menjadi bentuk dukungan yang sederhana, namun bermakna.

Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar mengaji bersama. Di tengah padatnya agenda KKM—dari program edukasi, sosial, hingga administrasi — khataman Al-Qur’an menjadi titik jeda yang menenangkan. Ia mengingatkan bahwa pengabdian tidak selalu tentang aktivitas fisik dan program besar, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan diri sendiri. Banyak dari kami yang merasakan suasana batin yang lebih ringan setelah kegiatan ini, seolah diberi energi baru untuk melanjutkan pengabdian di desa.

Dampak kegiatan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk angka atau capaian program, tetapi terasa secara personal. Bagi mahasiswa, khataman ini mempererat kebersamaan tim KKM, membangun rasa saling peduli, dan menumbuhkan kesadaran spiritual di tengah dinamika lapangan. Bagi lingkungan sekitar, meski secara tidak langsung, kehadiran mahasiswa yang aktif memakmurkan musholla memberi kesan positif bahwa KKM bukan hanya hadir untuk bekerja, tetapi juga untuk menyatu dengan nilai-nilai lokal dan religius masyarakat desa.

Menutup kegiatan, kami duduk sejenak di dalam musholla, berbagi kesan singkat dan doa bersama. Pagi perlahan beranjak terang, dan aktivitas desa mulai berjalan seperti biasa. Dari kegiatan sederhana ini, kami belajar bahwa kebermaknaan KKM tidak selalu lahir dari program yang besar dan ramai, tetapi dari niat yang tulus dan kebersamaan yang hangat. Harapan kami, semangat seperti ini bisa terus berlanjut, tidak hanya selama KKM berlangsung, tetapi juga ketika kami kembali ke kehidupan kampus dan masyarakat masing-masing.

Khataman Al-Qur’an di musholla desa Poncokusumo pada 4 Januari 2026 itu akan selalu kami ingat sebagai salah satu momen paling tenang selama KKM. Sebuah pagi yang mengajarkan kami untuk melambat sejenak, menata niat, dan melangkah kembali dengan hati yang lebih siap untuk mengabdi.

Jumat, 02 Januari 2026

Silaturahmi Awal Kelompok 27 Argantara di TPQ Raudhatul Mu’allimin


Pada 2 Januari, Kelompok 27 Argantara melaksanakan kunjungan awal ke TPQ Raudhatul Mu’allimin sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan perkenalan serta membangun kedekatan awal dengan para murid TPQ sebagai langkah awal dalam menjalin hubungan yang harmonis antara mahasiswa KKM dan lingkungan pendidikan keagamaan setempat.

Kegiatan perkenalan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusiasme. Para mahasiswa memperkenalkan diri satu per satu, menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran, serta menjelaskan peran KKM sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Anak-anak TPQ menyambut dengan penuh semangat, terlihat dari respons aktif dan rasa ingin tahu mereka selama kegiatan berlangsung.

Melalui kunjungan ini, Kelompok 27 Argantara berupaya menanamkan nilai silaturahmi, kebersamaan, dan rasa saling menghormati sejak awal pelaksanaan KKM. Interaksi sederhana yang terjalin diharapkan dapat menjadi fondasi yang kuat untuk mendukung program-program selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan dan pembinaan karakter anak.

Selain sebagai ajang perkenalan, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa KKM untuk mengenal lebih dekat lingkungan TPQ serta dinamika kegiatan belajar mengajar yang berlangsung. Pemahaman awal ini dinilai penting agar program yang akan dilaksanakan ke depan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter peserta didik secara tepat dan efektif.

Kegiatan ini menjadi langkah awal yang bermakna bagi Kelompok 27 Argantara dalam menjalankan pengabdian di tengah masyarakat. Diharapkan, kehadiran mahasiswa KKM tidak hanya memberikan kontribusi program kerja, tetapi juga menghadirkan dampak positif melalui hubungan yang humanis, berkelanjutan, dan penuh kebermanfaatan bagi TPQ Raudhatul Mu’allimin.

Program One Day One Juz

Berada di kaki pegunungan dengan udara yang sejuk dan suasana desa yang tenang, Poncokusumo menyambut kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasisw...