Kegiatan kerja bakti sekaligus pengecatan gapura makam ini sebenarnya lahir dari obrolan santai dengan warga. Dalam beberapa hari awal KKM, kami sering duduk bersama masyarakat, mendengarkan cerita-cerita ringan, termasuk soal kondisi makam yang mulai kusam. Dari situ, ide ini tumbuh alami. Tidak ada proposal panjang, tidak ada jarak “kami” dan “mereka”. Kami bersepakat bahwa gapura makam layak dipercantik, bukan sekadar soal estetika, tapi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan ruang sakral yang sering dikunjungi warga.
Hari pelaksanaan pun terasa seperti reuni besar. Warga datang membawa alat masing-masing, ada yang membawa kuas, ada yang menyiapkan air, bahkan ada ibu-ibu yang sibuk menyiapkan minuman sederhana. Kami, para mahasiswa, mengambil peran sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pengeksekusi. Ada yang mengatur pembagian tugas, ada yang membantu membersihkan lumut dan debu di permukaan gapura, dan ada juga yang langsung turun tangan mengecat bersama warga. Tawa ringan, candaan soal cat yang belepotan di tangan, sampai diskusi kecil soal warna cat membuat suasana kerja bakti terasa hangat dan cair.
Dinamika di lapangan justru menjadi bagian paling berkesan. Tidak semuanya berjalan mulus, ada cat yang kurang merata, ada perbedaan pendapat soal detail kecil, tapi semua diselesaikan dengan musyawarah sederhana. Kami belajar bahwa kolaborasi tidak selalu harus rapi, yang penting saling mendengar dan saling menghargai. Di sela-sela kegiatan, kami juga banyak belajar dari cerita warga tentang sejarah makam dan nilai-nilai lokal yang selama ini dijaga. Dari situ, kami sadar bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengecat gapura, tapi juga merawat ingatan kolektif.
Hasilnya mungkin terlihat sederhana: gapura makam tampak lebih bersih, cerah, dan layak dipandang. Namun dampaknya terasa lebih luas. Bagi masyarakat, kegiatan ini menumbuhkan kembali rasa memiliki dan kebersamaan. Warga merasa ruang bersama mereka diperhatikan dan dirawat secara gotong royong. Bagi kami sebagai mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar nyata tentang pengabdian. Kami belajar memimpin tanpa mendominasi, membantu tanpa merasa paling tahu, dan bekerja bersama tanpa sekat status.
Secara personal, kegiatan ini memberi kami pelajaran penting tentang makna hadir di tengah masyarakat. KKM bukan tentang seberapa besar program yang dibuat, tapi seberapa dalam interaksi yang terjalin. Melalui kerja bakti dan pengecatan gapura makam ini, kami merasakan bahwa kontribusi kecil, jika dilakukan bersama, bisa memberi dampak yang terasa. Ada kepuasan sederhana saat melihat warga tersenyum melihat hasil kerja bersama, dan ada rasa hangat saat kami duduk bersama di akhir kegiatan, menikmati teh hangat sambil berbagi cerita.
Menutup kegiatan ini, kami berharap semangat gotong royong yang tercipta tidak berhenti di hari itu saja. Semoga gapura yang telah dipercantik bisa menjadi simbol kebersamaan, dan semoga kehadiran kami sebagai mahasiswa KKM benar-benar meninggalkan kesan positif. Bagi kami, Poncokusumo bukan lagi sekadar lokasi KKM, tapi ruang belajar kehidupan yang akan selalu kami ingat. Sebuah pengingat bahwa pengabdian sejati sering kali lahir dari hal-hal sederhana, dilakukan dengan tulus, dan dijalani bersama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar