Hari itu, Balai Desa Poncokusumo terasa berbeda. Bukan karena dekorasi yang mewah atau acara yang terlalu formal, melainkan karena suasana haru yang pelan-pelan menyelimuti setiap sudut ruangan. Setelah rangkaian panjang kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang kami jalani bersama masyarakat, tibalah pada satu titik yang tidak bisa dihindari: penutupan KKM. Bagi kami, ini bukan sekadar seremoni akhir, tetapi momen untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa perjalanan singkat ini telah meninggalkan jejak yang cukup dalam, baik bagi kami sebagai mahasiswa maupun bagi lingkungan tempat kami belajar hidup bersama masyarakat.
Penutupan KKM yang dilaksanakan di Balai Desa Poncokusumo pada tanggal 30 jam 2026 (sesuai penjadwalan kegiatan) menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa KKM, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), serta para pekerja balai desa yang sejak awal telah membersamai kami. Sebagai mahasiswa, kami berperan penuh sebagai pembuat dan pengelola acara. Mulai dari menyusun konsep, membagi tugas, hingga memastikan acara berjalan lancar, semua kami kerjakan bersama dengan semangat gotong royong. Di balik persiapan itu, ada diskusi panjang, tawa kecil karena hal-hal sepele, dan juga kepanikan singkat saat waktu terasa berjalan terlalu cepat. Namun justru di situlah kami belajar, bahwa kerja tim bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang saling menguatkan.
Proses kegiatan penutupan berlangsung dengan sederhana namun penuh makna. Sambutan demi sambutan tidak terasa kaku karena dibalut dengan cerita dan candaan ringan yang mencerminkan kedekatan kami selama KKM. Para pekerja balai desa dan DPL tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kami. Interaksi yang terbangun selama ini terasa nyata ketika obrolan mengalir tanpa jarak, seolah kami bukan mahasiswa yang sedang “bertugas”, melainkan keluarga yang sedang berpamitan. Kolaborasi yang terjalin selama KKM pun kembali teringat—mulai dari kegiatan sosial, pendampingan, hingga keseharian sederhana seperti berbincang di sela aktivitas desa.
Dampak dari kegiatan penutupan ini mungkin tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi terasa secara emosional dan sosial. Bagi masyarakat dan para pekerja balai desa, penutupan KKM menjadi penanda bahwa kebersamaan yang terbangun tidak berhenti di acara ini saja. Ada rasa saling menghargai dan pengakuan bahwa kehadiran mahasiswa membawa warna tersendiri, meski dalam waktu yang terbatas. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang refleksi. Kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang program besar, tetapi tentang kehadiran yang tulus, sikap mau mendengar, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
Penutupan KKM juga memberi kami pelajaran penting tentang kedewasaan. Mengakhiri sesuatu yang bermakna ternyata tidak mudah. Ada rasa bangga karena berhasil menyelesaikan tanggung jawab, tetapi juga ada kesedihan karena harus berpisah. Dari sini kami menyadari bahwa pengalaman KKM bukan hanya menambah catatan kegiatan akademik, melainkan membentuk cara pandang kami sebagai manusia. Kami belajar berinteraksi dengan berbagai karakter, menghargai proses, dan memahami realitas sosial secara lebih dekat—hal-hal yang mungkin tidak kami dapatkan di ruang kelas.
Pada akhirnya, penutupan KKM di Balai Desa Poncokusumo bukanlah akhir dari segalanya. Justru kami berharap, ini menjadi awal dari hubungan baik yang terus terjaga, meski tidak lagi dalam bingkai program resmi. Ada harapan kecil agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan memberi manfaat yang lebih luas di masa depan. Bagi kami pribadi, KKM akan selalu menjadi cerita yang layak dikenang—tentang kebersamaan, pembelajaran, dan makna pengabdian yang sesungguhnya. Kami pulang dengan membawa lebih dari sekadar kenangan, tetapi juga nilai-nilai yang akan kami bawa dalam langkah berikutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar