Siang itu, Balai Desa di wilayah Poncokusumo terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak matahari mulai naik, satu per satu warga berdatangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Kami, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bekerja sama dengan pihak LP2M berdiri di antara mereka bukan sebagai “ahli”, tetapi sebagai teman belajar yang ingin berbagi. Suasana desa yang tenang, sapaan ramah warga, dan aroma kopi yang sempat tersaji sebelum acara dimulai membuat kegiatan hari itu terasa hangat dan membumi. Inilah awal dari kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Halal bagi UMKM yang kami laksanakan pada 26 Januari 2026.
Kegiatan ini berangkat dari proses penjaringan UMKM yang telah dilakukan di seluruh wilayah Poncokusumo. Dari situ, kami melihat satu benang merah yang sama: semangat berusaha masyarakat sangat tinggi, tetapi masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya sertifikasi halal, baik dari sisi kepercayaan konsumen maupun keberlanjutan usaha. Melalui sosialisasi ini, kami ingin membuka ruang diskusi yang sederhana, jujur, dan mudah dipahami, tanpa kesan menggurui. Kami berperan sebagai fasilitator sekaligus penyelenggara, memastikan materi tersampaikan dengan bahasa yang dekat dengan realitas sehari-hari pelaku usaha.
Proses kegiatan berjalan secara dialogis. Tidak hanya pemaparan materi, tetapi juga sesi tanya jawab yang justru menjadi bagian paling hidup. Banyak pelaku UMKM berbagi cerita tentang tantangan mereka, mulai dari keterbatasan informasi, kekhawatiran biaya, hingga kebingungan soal alur pengurusan sertifikasi halal. Di sinilah dinamika lapangan terasa nyata. Kami belajar mendengarkan, menyesuaikan bahasa, dan menyederhanakan konsep agar benar-benar relevan. Kolaborasi dengan perangkat desa turut memperkuat kegiatan ini, menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan saling percaya.
Dampak dari kegiatan ini mulai terasa bahkan sebelum acara berakhir. Beberapa pelaku UMKM mengaku baru memahami bahwa sertifikasi halal bukan sekadar label, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap konsumen dan nilai tambah bagi usaha mereka. Ada rasa percaya diri yang tumbuh, seolah mereka melihat peluang baru untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang nyata. Kami tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memahami kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara langsung.
Lebih dari sekadar sosialisasi, kegiatan ini menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik di lapangan. Kami menyadari bahwa perubahan tidak selalu datang secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran kecil yang terus dirawat. Melihat antusiasme warga dan keterbukaan mereka terhadap diskusi menjadi pengalaman yang berharga dan membekas.
Menutup kegiatan hari itu, kami pulang dengan perasaan penuh syukur. KKM bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi tentang membangun relasi, kepercayaan, dan empati. Harapan kami, sosialisasi ini bisa menjadi langkah awal bagi UMKM di Poncokusumo untuk melangkah menuju usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan bahwa pengabdian terbaik adalah hadir, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dan dari balai desa sederhana itu, kami belajar arti kontribusi yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar