Berada di Desa Wangkal Lor, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi pengalaman yang tidak akan mudah saya lupakan selama mengikuti Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Desa ini menyambut kami dengan suasana yang tenang, udara sejuk khas lereng pegunungan, serta masyarakat yang ramah dan terbuka. Sejak hari pertama, kami menyadari bahwa KKM bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga ruang belajar nyata tentang kehidupan sosial, nilai kebersamaan, dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Dari sekian rangkaian kegiatan yang kami rancang, salah satu yang paling berkesan adalah Seminar Pergaulan Bebas bagi Siswa MTS Mathla'ul Huda sebagai Upaya Pembentukan Karakter.
Kegiatan seminar ini dilaksanakan pada tanggal 12, 19, dan 26 Januari, bertempat di lingkungan MTS Mathla'ul Huda. Sasaran utama kegiatan ini adalah para pelajar tingkat madrasah tsanawiyah, yang berada pada fase usia remaja awal. Kami melihat fase ini sebagai masa krusial, di mana rasa ingin tahu tinggi sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang cukup tentang batasan pergaulan dan nilai moral. Berangkat dari keresahan tersebut, kami bersama pihak sekolah sepakat menyelenggarakan seminar yang tidak menggurui, tetapi mengajak siswa untuk berdialog, berpikir, dan merefleksikan pilihan-pilihan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan ini, kami berperan sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pemateri. Suasana seminar dibuat santai namun tetap fokus. Alih-alih ceramah satu arah, kami membuka ruang diskusi, tanya jawab, serta simulasi kasus yang dekat dengan realitas siswa. Awalnya, beberapa siswa terlihat malu-malu untuk berbicara. Namun seiring berjalannya waktu, kelas mulai hidup. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga pertanyaan kritis mulai bermunculan. Di situlah kami merasakan dinamika lapangan yang sesungguhnya—bahwa pendekatan yang humanis jauh lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian materi.
Kolaborasi dengan guru dan pihak sekolah juga menjadi kunci kelancaran kegiatan ini. Para guru tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi ikut terlibat dalam diskusi dan memberi penguatan nilai-nilai karakter yang relevan dengan lingkungan sekolah dan keluarga siswa. Dukungan ini membuat pesan yang kami sampaikan tidak berhenti di ruang seminar saja, tetapi diharapkan dapat berlanjut dalam keseharian siswa, baik di sekolah maupun di rumah.
Dampak dari kegiatan ini terasa secara perlahan namun nyata. Para siswa mulai berani menyampaikan pendapat tentang pergaulan yang sehat, memahami risiko dari pergaulan bebas, serta menyadari pentingnya menjaga diri dan karakter. Bagi masyarakat sekolah, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter membutuhkan kerja bersama, tidak hanya mengandalkan kurikulum formal. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini mengasah empati, kemampuan komunikasi, serta kepekaan sosial yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas kampus.
Menutup rangkaian kegiatan ini, saya pribadi merasa KKM telah mengajarkan arti hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat. Seminar ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan diharapkan dapat tumbuh lebih lama. Harapan kami, kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh sekolah maupun generasi KKM berikutnya, dengan tema-tema yang relevan dengan kebutuhan remaja. Dari Desa Wangkal Lor, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang hal besar, tetapi tentang niat tulus, keterlibatan nyata, dan keberanian untuk mendengarkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar