Minggu, 01 Februari 2026

Program One Day One Juz


Berada di kaki pegunungan dengan udara yang sejuk dan suasana desa yang tenang, Poncokusumo menyambut kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa — bukan hanya sebagai tamu, tetapi perlahan sebagai bagian dari keseharian warganya. Sejak awal penempatan KKM, kami menyadari bahwa desa ini memiliki denyut kehidupan religius yang kuat, terutama saat waktu maghrib tiba. Dari musholla kecil di sudut kampung hingga masjid yang menjadi pusat aktivitas warga, lantunan ayat suci selalu terdengar, mengisi senja dengan ketenangan. Dari sanalah gagasan Program One Day One Juz tumbuh, bukan sebagai agenda besar yang kaku, tetapi sebagai ikhtiar sederhana untuk membersamai masyarakat dalam menjaga tradisi mengaji.

Program One Day One Juz kami laksanakan sejak 24 Desember hingga 29 Januari 2026, dengan konsep berpindah-pindah setiap hari Minggu di berbagai musholla dan masjid di Desa Poncokusumo. Waktu pelaksanaannya sengaja dipilih selepas maghrib, saat aktivitas warga mulai melambat dan suasana lebih khusyuk. Kami, para mahasiswa KKM, berperan sebagai peserta mengaji bersama, duduk sejajar dengan warga, tanpa jarak, tanpa sekat. Tidak ada panggung, tidak ada mikrofon khusus — hanya mushaf, tikar, dan niat untuk istiqamah membaca satu juz Al-Qur’an setiap pertemuan.

Proses kegiatan ini berjalan dengan alur yang natural. Setiap Minggu, kami mengikuti jadwal musholla atau masjid yang sudah disepakati bersama takmir setempat. Kadang tempatnya sederhana dengan penerangan seadanya, kadang cukup luas dan ramai oleh jamaah. Dinamikanya pun beragam. Ada hari di mana jamaah yang hadir hanya segelintir orang, namun ada pula malam-malam ketika musholla penuh dan suasana terasa begitu hangat. Warga menyambut kami dengan ramah, bahkan tak jarang setelah mengaji, obrolan ringan pun mengalir — tentang kehidupan desa, cerita masa lalu, hingga harapan mereka terhadap generasi muda. Di situlah kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu soal program besar, tetapi tentang kehadiran yang konsisten dan tulus.

Dampak dari kegiatan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk angka atau grafik, tetapi terasa dalam suasana. Program One Day One Juz menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat ikatan antara mahasiswa dan masyarakat. Bagi warga, terutama jamaah tetap musholla dan masjid, kegiatan ini menjadi penguat semangat untuk terus mengaji bersama. Sementara bagi kami, mahasiswa KKM, program ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga rutinitas spiritual di tengah kesibukan akademik. Mengaji bersama warga desa mengajarkan kami tentang kesederhanaan, keikhlasan, dan makna kebersamaan yang sering kali luput dalam kehidupan kampus.

Lebih dari itu, kegiatan ini memberi kami pengalaman batin yang mendalam. Duduk bersila bersama warga, mendengarkan suara ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca bergantian, kami merasa tidak lagi sebagai “mahasiswa yang sedang KKM”, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang saling menguatkan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan, rasa pulang meski sedang berada jauh dari rumah sendiri. Bagi kami, inilah bentuk pengabdian yang paling jujur — hadir, mendengar, dan berjalan bersama masyarakat.

Menjelang berakhirnya masa KKM, Program One Day One Juz meninggalkan kesan mendalam. Kami berharap kegiatan sederhana ini tidak berhenti bersama kepulangan kami, tetapi dapat terus dilanjutkan oleh warga setempat sebagai tradisi rutin. Bagi kami pribadi, program ini akan selalu menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak harus megah, cukup dilakukan dengan hati yang ikhlas dan niat yang baik. Dari Poncokusumo, kami belajar bahwa satu juz setiap hari, dibaca bersama, bisa menjadi jembatan kecil yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, sekaligus dengan sesamanya.

Sabtu, 31 Januari 2026

Penutupan KKM: Menutup Perjalanan, Membuka Kenangan di Balai Desa Poncokusumo

Hari itu, Balai Desa Poncokusumo terasa berbeda. Bukan karena dekorasi yang mewah atau acara yang terlalu formal, melainkan karena suasana haru yang pelan-pelan menyelimuti setiap sudut ruangan. Setelah rangkaian panjang kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang kami jalani bersama masyarakat, tibalah pada satu titik yang tidak bisa dihindari: penutupan KKM. Bagi kami, ini bukan sekadar seremoni akhir, tetapi momen untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa perjalanan singkat ini telah meninggalkan jejak yang cukup dalam, baik bagi kami sebagai mahasiswa maupun bagi lingkungan tempat kami belajar hidup bersama masyarakat.


Penutupan KKM yang dilaksanakan di Balai Desa Poncokusumo pada tanggal 30 jam 2026 (sesuai penjadwalan kegiatan) menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa KKM, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), serta para pekerja balai desa yang sejak awal telah membersamai kami. Sebagai mahasiswa, kami berperan penuh sebagai pembuat dan pengelola acara. Mulai dari menyusun konsep, membagi tugas, hingga memastikan acara berjalan lancar, semua kami kerjakan bersama dengan semangat gotong royong. Di balik persiapan itu, ada diskusi panjang, tawa kecil karena hal-hal sepele, dan juga kepanikan singkat saat waktu terasa berjalan terlalu cepat. Namun justru di situlah kami belajar, bahwa kerja tim bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang saling menguatkan.


Proses kegiatan penutupan berlangsung dengan sederhana namun penuh makna. Sambutan demi sambutan tidak terasa kaku karena dibalut dengan cerita dan candaan ringan yang mencerminkan kedekatan kami selama KKM. Para pekerja balai desa dan DPL tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kami. Interaksi yang terbangun selama ini terasa nyata ketika obrolan mengalir tanpa jarak, seolah kami bukan mahasiswa yang sedang “bertugas”, melainkan keluarga yang sedang berpamitan. Kolaborasi yang terjalin selama KKM pun kembali teringat—mulai dari kegiatan sosial, pendampingan, hingga keseharian sederhana seperti berbincang di sela aktivitas desa.


Dampak dari kegiatan penutupan ini mungkin tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi terasa secara emosional dan sosial. Bagi masyarakat dan para pekerja balai desa, penutupan KKM menjadi penanda bahwa kebersamaan yang terbangun tidak berhenti di acara ini saja. Ada rasa saling menghargai dan pengakuan bahwa kehadiran mahasiswa membawa warna tersendiri, meski dalam waktu yang terbatas. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang refleksi. Kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang program besar, tetapi tentang kehadiran yang tulus, sikap mau mendengar, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.


Penutupan KKM juga memberi kami pelajaran penting tentang kedewasaan. Mengakhiri sesuatu yang bermakna ternyata tidak mudah. Ada rasa bangga karena berhasil menyelesaikan tanggung jawab, tetapi juga ada kesedihan karena harus berpisah. Dari sini kami menyadari bahwa pengalaman KKM bukan hanya menambah catatan kegiatan akademik, melainkan membentuk cara pandang kami sebagai manusia. Kami belajar berinteraksi dengan berbagai karakter, menghargai proses, dan memahami realitas sosial secara lebih dekat—hal-hal yang mungkin tidak kami dapatkan di ruang kelas.


Pada akhirnya, penutupan KKM di Balai Desa Poncokusumo bukanlah akhir dari segalanya. Justru kami berharap, ini menjadi awal dari hubungan baik yang terus terjaga, meski tidak lagi dalam bingkai program resmi. Ada harapan kecil agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan memberi manfaat yang lebih luas di masa depan. Bagi kami pribadi, KKM akan selalu menjadi cerita yang layak dikenang—tentang kebersamaan, pembelajaran, dan makna pengabdian yang sesungguhnya. Kami pulang dengan membawa lebih dari sekadar kenangan, tetapi juga nilai-nilai yang akan kami bawa dalam langkah berikutnya.

Jumat, 30 Januari 2026

Program senam sehat bersama masyarakat


Pagi itu, balai desa di Poncokusumo terasa sedikit berbeda. Biasanya tempat ini identik dengan rapat warga atau kegiatan administrasi desa, tapi pada 28 Januari 2026 suasananya lebih hidup. Musik senam mulai terdengar pelan, tawa saling bersahutan, dan kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) — berdiri di tengah masyarakat dengan rasa campur aduk antara antusias dan gugup. KKM bagi kami bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan belajar langsung dari kehidupan nyata. Di desa ini, kami mencoba membaur, memahami ritme warga, dan ikut menjadi bagian dari keseharian mereka. Program senam sehat bersama masyarakat menjadi salah satu langkah kecil kami untuk memulai kedekatan itu.

Sejak pagi, ibu-ibu dan bapak-bapak sudah berdatangan ke balai desa. Ada yang datang sambil bercengkerama, ada pula yang masih malu-malu berdiri di pinggir. Kami berperan sebagai pendamping sekaligus pemimpin senam, menyiapkan alat sederhana dan mengatur barisan seadanya. Tidak semua berjalan mulus. Ada momen ketika musik tiba-tiba berhenti, atau gerakan senam yang kami contohkan malah membuat peserta tertawa karena terasa “terlalu semangat” untuk pagi hari. Tapi justru di situlah letak kehangatannya. Warga tidak sungkan memberi masukan, bercanda, bahkan ikut mengarahkan irama agar lebih nyaman. Kolaborasi ini terasa alami, tanpa jarak antara mahasiswa dan masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, kami menyadari bahwa senam bukan hanya soal gerakan tubuh. Di sela-sela gerakan, obrolan ringan mengalir — tentang kesehatan, aktivitas sehari-hari, hingga cerita sederhana tentang keluarga. Ibu-ibu saling menyemangati agar tidak berhenti di tengah jalan, sementara bapak-bapak mulai ikut menyesuaikan gerakan dengan gaya mereka sendiri. Kami belajar bahwa pendekatan yang humanis jauh lebih efektif daripada sekadar mengatur. Ketika mahasiswa mau mendengar dan menyesuaikan diri, masyarakat pun merasa lebih dihargai dan terlibat penuh.

Dampak kegiatan ini terasa langsung, meski sederhana. Warga tampak lebih bersemangat dan ceria setelah senam selesai. Beberapa mengaku jarang berolahraga bersama, sehingga kegiatan ini menjadi momen menyegarkan sekaligus mempererat kebersamaan. Dari sisi kesehatan, senam pagi membantu meningkatkan kesadaran pentingnya aktivitas fisik ringan yang bisa dilakukan tanpa biaya dan alat khusus. Bagi kami sebagai mahasiswa, manfaatnya tidak kalah besar. Kami belajar memimpin dengan empati, berkomunikasi lintas usia, serta memahami bahwa pengabdian tidak selalu harus berupa program besar. Hal kecil yang konsisten justru sering meninggalkan kesan mendalam.

Kegiatan ini juga membuka ruang refleksi. Kami datang ke desa dengan niat berbagi, tetapi pulang dengan banyak pelajaran. Masyarakat Poncokusumo mengajarkan arti kebersamaan, kesederhanaan, dan keikhlasan dalam beraktivitas. Senam sehat ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam, namun dampaknya terasa lebih panjang karena membangun kebiasaan dan hubungan. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, baik oleh masyarakat sendiri maupun oleh adik-adik KKM berikutnya, sebagai bagian dari gaya hidup sehat bersama.

Menutup hari itu, kami menyadari bahwa KKM bukan tentang seberapa banyak program yang dijalankan, melainkan seberapa dalam makna yang tertinggal. Di balai desa yang sederhana, lewat gerakan senam dan tawa bersama, kami merasa benar-benar menjadi bagian dari masyarakat. Harapan kami sederhana: semoga langkah kecil ini menjadi awal dari kebiasaan baik, dan semoga semangat kebersamaan yang tercipta tetap hidup, bahkan setelah masa KKM kami berakhir.

Rabu, 28 Januari 2026

Belajar Bersama UMKM: Sosialisasi Sertifikasi Halal dari Desa untuk Keberlanjutan Usaha


Siang itu, Balai Desa di wilayah Poncokusumo terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak matahari mulai naik, satu per satu warga berdatangan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Kami, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bekerja sama dengan pihak LP2M berdiri di antara mereka bukan sebagai “ahli”, tetapi sebagai teman belajar yang ingin berbagi. Suasana desa yang tenang, sapaan ramah warga, dan aroma kopi yang sempat tersaji sebelum acara dimulai membuat kegiatan hari itu terasa hangat dan membumi. Inilah awal dari kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Halal bagi UMKM yang kami laksanakan pada 26 Januari 2026.

Kegiatan ini berangkat dari proses penjaringan UMKM yang telah dilakukan di seluruh wilayah Poncokusumo. Dari situ, kami melihat satu benang merah yang sama: semangat berusaha masyarakat sangat tinggi, tetapi masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya sertifikasi halal, baik dari sisi kepercayaan konsumen maupun keberlanjutan usaha. Melalui sosialisasi ini, kami ingin membuka ruang diskusi yang sederhana, jujur, dan mudah dipahami, tanpa kesan menggurui. Kami berperan sebagai fasilitator sekaligus penyelenggara, memastikan materi tersampaikan dengan bahasa yang dekat dengan realitas sehari-hari pelaku usaha.

Proses kegiatan berjalan secara dialogis. Tidak hanya pemaparan materi, tetapi juga sesi tanya jawab yang justru menjadi bagian paling hidup. Banyak pelaku UMKM berbagi cerita tentang tantangan mereka, mulai dari keterbatasan informasi, kekhawatiran biaya, hingga kebingungan soal alur pengurusan sertifikasi halal. Di sinilah dinamika lapangan terasa nyata. Kami belajar mendengarkan, menyesuaikan bahasa, dan menyederhanakan konsep agar benar-benar relevan. Kolaborasi dengan perangkat desa turut memperkuat kegiatan ini, menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan saling percaya.

Dampak dari kegiatan ini mulai terasa bahkan sebelum acara berakhir. Beberapa pelaku UMKM mengaku baru memahami bahwa sertifikasi halal bukan sekadar label, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap konsumen dan nilai tambah bagi usaha mereka. Ada rasa percaya diri yang tumbuh, seolah mereka melihat peluang baru untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang nyata. Kami tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memahami kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat secara langsung.

Lebih dari sekadar sosialisasi, kegiatan ini menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik di lapangan. Kami menyadari bahwa perubahan tidak selalu datang secara instan, tetapi dimulai dari kesadaran kecil yang terus dirawat. Melihat antusiasme warga dan keterbukaan mereka terhadap diskusi menjadi pengalaman yang berharga dan membekas.

Menutup kegiatan hari itu, kami pulang dengan perasaan penuh syukur. KKM bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi tentang membangun relasi, kepercayaan, dan empati. Harapan kami, sosialisasi ini bisa menjadi langkah awal bagi UMKM di Poncokusumo untuk melangkah menuju usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan bahwa pengabdian terbaik adalah hadir, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dan dari balai desa sederhana itu, kami belajar arti kontribusi yang sesungguhnya.

Senin, 26 Januari 2026

Belajar Mengajar, Mengajar untuk Belajar: Cerita KKM di TPQ Roudlotul Mu’alimin


Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) menjadi salah satu momen yang paling kami nantikan selama masa perkuliahan. Bukan hanya karena kami turun langsung ke tengah masyarakat, tetapi karena di sanalah kami belajar memahami realitas kehidupan secara lebih dekat. Salah satu kegiatan yang paling berkesan selama pelaksanaan KKM pada 2–24 Januari adalah "Asistensi Mengajar Al-Qur’an di TPQ Roudlotul Mu’alimin", yang dilaksanakan di balai desa. Setiap sore, suasana balai desa berubah menjadi ruang belajar yang penuh dengan suara anak-anak mengaji, tawa kecil, dan semangat yang tulus.

Sejak hari pertama, kami disambut dengan hangat oleh para pengajar TPQ dan masyarakat sekitar. Anak-anak TPQ Roudlotul Mu’alimin datang dengan wajah polos dan antusias, membawa iqra’ atau mushaf Al-Qur’an mereka masing-masing. Sebagai mahasiswa yang berperan sebagai pengajar, kami berusaha menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran yang sudah ada. Tidak jarang kami harus belajar kembali, mengulang dasar-dasar tajwid, makhraj huruf, hingga cara menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Di sinilah kami sadar bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga soal kesabaran dan ketelatenan.

Proses kegiatan berjalan secara bertahap dan penuh dinamika. Ada anak-anak yang sudah lancar membaca Al-Qur’an, ada pula yang masih belajar mengenal huruf hijaiyah. Kami membagi peran secara fleksibel, saling membantu agar setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup. Kolaborasi dengan ustaz dan ustazah TPQ sangat membantu kami dalam memahami karakter masing-masing murid. Masyarakat sekitar pun memberikan dukungan penuh, mulai dari menyediakan tempat hingga memastikan anak-anak hadir tepat waktu. Interaksi sederhana seperti berbincang dengan orang tua murid setelah mengaji menjadi pengalaman berharga yang mempererat hubungan kami dengan warga desa.

Dampak dari kegiatan ini terasa dari dua arah. Bagi anak-anak TPQ, kehadiran kami menambah semangat belajar dan variasi dalam proses mengaji. Mereka menjadi lebih berani membaca dengan suara lantang dan tidak ragu bertanya ketika menemui kesulitan. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang refleksi yang nyata. Kami belajar berkomunikasi dengan anak-anak, memahami kondisi sosial masyarakat, serta menyadari bahwa ilmu yang kami miliki, sekecil apa pun, dapat memberi manfaat jika dibagikan dengan tulus. Pengalaman ini juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan empati yang tidak selalu kami dapatkan di ruang kelas.

Menjelang akhir kegiatan KKM, ada perasaan haru yang sulit diungkapkan. Balai desa yang awalnya terasa asing kini menjadi tempat penuh kenangan. Kami berharap kegiatan asistensi mengajar Al-Qur’an ini dapat terus berlanjut, baik oleh mahasiswa KKM berikutnya maupun oleh masyarakat setempat. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan kami bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam bentuk besar. Terkadang, duduk bersama anak-anak, membimbing mereka membaca ayat demi ayat, justru menjadi bentuk pengabdian yang paling bermakna.

Silaturahmi ke Tokoh Masyarakat setempat


Berada di tengah-tengah masyarakat melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) selalu menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar soal menjalankan program, tetapi juga tentang belajar memahami manusia dan lingkungannya. Di hari-hari awal pelaksanaan KKM, kami menyadari bahwa sebelum melangkah lebih jauh dengan berbagai kegiatan, ada satu hal mendasar yang perlu dibangun terlebih dahulu: hubungan yang baik. Dari kesadaran itulah kegiatan "Silaturahmi ke Tokoh Masyarakat setempat" menjadi langkah awal kami. Pada 24 Desember 2026, suasana rumah-rumah tokoh masyarakat yang kami kunjungi terasa hangat dan bersahaja, mencerminkan karakter lingkungan yang ramah dan terbuka terhadap kehadiran kami sebagai mahasiswa KKM.

Kegiatan silaturahmi ini kami lakukan dengan mendatangi langsung rumah para tokoh masyarakat di wilayah lokasi KKM. Tidak ada panggung, tidak ada mikrofon, hanya pertemuan sederhana dengan duduk bersama, berbincang, dan saling memperkenalkan diri. Sebagai mahasiswa, peran kami lebih banyak mendengarkan. Kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan, mengenalkan program KKM secara umum, lalu membuka ruang dialog agar para tokoh masyarakat dapat berbagi pandangan, cerita, dan harapan mereka terhadap keberadaan kami di desa. Obrolan mengalir ringan, kadang diselingi canda, kadang berubah menjadi diskusi serius tentang kondisi sosial, kebiasaan warga, hingga potensi desa yang bisa dikembangkan bersama.

Dalam proses silaturahmi tersebut, kami merasakan betul bagaimana keterbukaan masyarakat menjadi kunci utama kelancaran kegiatan. Tokoh-tokoh masyarakat menyambut kami dengan penuh keramahan, bahkan beberapa di antaranya dengan spontan mengajak kami menikmati hidangan sederhana sebagai simbol penerimaan. Dari mereka, kami belajar tentang nilai gotong royong yang masih kuat, cara berkomunikasi yang santun, serta pentingnya menghargai adat dan kebiasaan setempat. Kolaborasi yang terbangun bukan dalam bentuk kerja formal, melainkan kepercayaan. Kami merasa tidak lagi sekadar “tamu”, tetapi mulai dianggap sebagai bagian dari lingkungan yang sedang belajar dan mengabdi.

Dampak dari kegiatan silaturahmi ini terasa cukup signifikan, meskipun bentuknya tidak selalu kasat mata. Bagi masyarakat, kehadiran mahasiswa yang datang dengan niat baik dan sikap terbuka menumbuhkan rasa aman dan nyaman. Komunikasi menjadi lebih mudah, sehingga kegiatan KKM selanjutnya dapat berjalan dengan dukungan dan arahan dari para tokoh masyarakat. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya membangun hubungan sosial sebelum menjalankan program apa pun. Kami belajar bahwa keberhasilan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh ide yang bagus, tetapi juga oleh cara kita hadir dan berinteraksi dengan masyarakat.

Menutup rangkaian silaturahmi ini, kami membawa pulang banyak refleksi pribadi. Kami menyadari bahwa pengabdian sejatinya dimulai dari sikap rendah hati dan kemauan untuk mendengarkan. Harapan kami, hubungan baik yang terjalin melalui silaturahmi ini tidak berhenti hanya selama masa KKM berlangsung, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama dan komunikasi yang berkesinambungan. Kesan hangat dari pertemuan sederhana di rumah-rumah tokoh masyarakat tersebut akan selalu kami ingat sebagai fondasi awal perjalanan KKM kami, sekaligus pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang penuh makna.

Seminar Pergaulan Bebas bagi Siswa MTS Mathla'ul Huda sebagai Upaya Pembentukan Karakter


Berada di Desa Wangkal Lor, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi pengalaman yang tidak akan mudah saya lupakan selama mengikuti Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Desa ini menyambut kami dengan suasana yang tenang, udara sejuk khas lereng pegunungan, serta masyarakat yang ramah dan terbuka. Sejak hari pertama, kami menyadari bahwa KKM bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga ruang belajar nyata tentang kehidupan sosial, nilai kebersamaan, dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Dari sekian rangkaian kegiatan yang kami rancang, salah satu yang paling berkesan adalah Seminar Pergaulan Bebas bagi Siswa MTS Mathla'ul Huda sebagai Upaya Pembentukan Karakter.

Kegiatan seminar ini dilaksanakan pada tanggal 12, 19, dan 26 Januari, bertempat di lingkungan MTS Mathla'ul Huda. Sasaran utama kegiatan ini adalah para pelajar tingkat madrasah tsanawiyah, yang berada pada fase usia remaja awal. Kami melihat fase ini sebagai masa krusial, di mana rasa ingin tahu tinggi sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang cukup tentang batasan pergaulan dan nilai moral. Berangkat dari keresahan tersebut, kami bersama pihak sekolah sepakat menyelenggarakan seminar yang tidak menggurui, tetapi mengajak siswa untuk berdialog, berpikir, dan merefleksikan pilihan-pilihan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan ini, kami berperan sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus pemateri. Suasana seminar dibuat santai namun tetap fokus. Alih-alih ceramah satu arah, kami membuka ruang diskusi, tanya jawab, serta simulasi kasus yang dekat dengan realitas siswa. Awalnya, beberapa siswa terlihat malu-malu untuk berbicara. Namun seiring berjalannya waktu, kelas mulai hidup. Tawa kecil, anggukan setuju, hingga pertanyaan kritis mulai bermunculan. Di situlah kami merasakan dinamika lapangan yang sesungguhnya—bahwa pendekatan yang humanis jauh lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian materi.

Kolaborasi dengan guru dan pihak sekolah juga menjadi kunci kelancaran kegiatan ini. Para guru tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi ikut terlibat dalam diskusi dan memberi penguatan nilai-nilai karakter yang relevan dengan lingkungan sekolah dan keluarga siswa. Dukungan ini membuat pesan yang kami sampaikan tidak berhenti di ruang seminar saja, tetapi diharapkan dapat berlanjut dalam keseharian siswa, baik di sekolah maupun di rumah.

Dampak dari kegiatan ini terasa secara perlahan namun nyata. Para siswa mulai berani menyampaikan pendapat tentang pergaulan yang sehat, memahami risiko dari pergaulan bebas, serta menyadari pentingnya menjaga diri dan karakter. Bagi masyarakat sekolah, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter membutuhkan kerja bersama, tidak hanya mengandalkan kurikulum formal. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini mengasah empati, kemampuan komunikasi, serta kepekaan sosial yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas kampus.

Menutup rangkaian kegiatan ini, saya pribadi merasa KKM telah mengajarkan arti hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat. Seminar ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan diharapkan dapat tumbuh lebih lama. Harapan kami, kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh sekolah maupun generasi KKM berikutnya, dengan tema-tema yang relevan dengan kebutuhan remaja. Dari Desa Wangkal Lor, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu tentang hal besar, tetapi tentang niat tulus, keterlibatan nyata, dan keberanian untuk mendengarkan.

Program One Day One Juz

Berada di kaki pegunungan dengan udara yang sejuk dan suasana desa yang tenang, Poncokusumo menyambut kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasisw...