Jumat, 23 Januari 2026

Pendampingan Pembuatan NIB untuk UMKM: Belajar Bertumbuh Bersama Pelaku Usaha Desa



Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) selalu punya caranya sendiri untuk mengajarkan kami tentang kehidupan nyata. Selama periode 17–24 Januari 2026, kami menjalani KKM di Desa Keden dan Wangkal, Kecamatan Poncokusumo. Desa ini menyambut kami dengan udara sejuk, hamparan aktivitas warga yang bersahaja, serta geliat UMKM yang tumbuh perlahan namun penuh potensi. Sejak hari-hari awal, kami menyadari bahwa banyak pelaku usaha di desa ini sudah produktif, tetapi belum seluruhnya tersentuh oleh aspek legalitas usaha. Dari situlah kegiatan Pendampingan Pembuatan NIB untuk UMKM kami mulai. Kami berkunjung dari satu UMKM ke UMKM lain di seluruh desa, menyapa, berbincang, dan menawarkan pendampingan secara langsung, dengan pendekatan yang santai namun tetap informatif.

Proses pendampingan ini bukan sekadar soal mengisi data dan mengakses sistem OSS. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang interaksi yang hangat antara mahasiswa dan masyarakat. Kami mendatangi warung kelontong, usaha olahan makanan rumahan, pengrajin kecil, hingga pedagang musiman. Setiap kunjungan selalu diawali dengan obrolan ringan—tentang usaha yang dirintis, tantangan yang dihadapi, dan harapan mereka ke depan. Dari situ, kami mulai menjelaskan apa itu Nomor Induk Berusaha (NIB), manfaatnya, serta bagaimana legalitas bisa membuka akses yang lebih luas, mulai dari bantuan pemerintah hingga peluang pengembangan usaha.

Di lapangan, dinamika tentu tak selalu mulus. Ada pelaku UMKM yang antusias, ada pula yang ragu karena merasa proses administrasi itu rumit dan memakan waktu. Beberapa terkendala dokumen, sebagian lagi belum terbiasa menggunakan teknologi digital. Di sinilah peran kami sebagai pendamping benar-benar diuji. Kami belajar bersabar, menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, dan menyesuaikan ritme dengan kondisi masing-masing pelaku usaha. Proses pendampingan sering kali dilakukan sambil duduk di teras rumah, di sela-sela aktivitas produksi, bahkan di tengah kesibukan melayani pembeli. Namun justru di situlah kami merasakan kolaborasi yang nyata—bukan sebagai “mahasiswa yang mengajari”, tetapi sebagai teman diskusi yang berjalan bersama.

Dampak dari kegiatan ini mulai terasa seiring berjalannya waktu. Beberapa pelaku UMKM yang awalnya ragu akhirnya berhasil memiliki NIB atas nama usahanya sendiri. Raut wajah lega dan bangga ketika proses selesai menjadi momen yang sulit dilupakan. Bagi masyarakat, NIB bukan lagi sekadar istilah administratif, melainkan pintu awal menuju pengembangan usaha yang lebih terarah. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini membuka perspektif baru tentang arti pemberdayaan. Kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam skala besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal praktis yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Menjelang akhir kegiatan, kami banyak melakukan refleksi bersama. Pendampingan pembuatan NIB ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa berkelanjutan jika terus dilanjutkan oleh pihak desa dan pelaku UMKM sendiri. Kami berharap apa yang telah dimulai selama KKM ini tidak berhenti ketika masa pengabdian kami selesai. Lebih dari itu, kami membawa pulang pelajaran berharga tentang empati, komunikasi, dan makna hadir di tengah masyarakat. Desa Keden dan Wangkal bukan hanya lokasi KKM bagi kami, tetapi ruang belajar yang membentuk cara pandang kami sebagai mahasiswa dan calon bagian dari masyarakat itu sendiri.

x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Program One Day One Juz

Berada di kaki pegunungan dengan udara yang sejuk dan suasana desa yang tenang, Poncokusumo menyambut kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasisw...