Subuh itu, Desa Poncokusumo masih diselimuti udara dingin khas pegunungan. Kabut tipis menggantung pelan di antara rumah-rumah warga, sementara suara adzan Subuh menggema lembut dari musholla setempat. Di momen hening itulah, kami — mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) — melangkahkan kaki menuju musholla dengan hati yang terasa lebih tenang dari biasanya. Kegiatan Khataman Al-Qur’an yang kami rencanakan sejak awal KKM akhirnya tiba, bukan sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai ruang kebersamaan dan perenungan di tengah pengabdian kami kepada masyarakat.
Sejak sebelum Subuh, satu per satu mahasiswa sudah berkumpul. Ada yang membawa mushaf, ada yang masih menahan kantuk, tapi semuanya datang dengan niat yang sama. Musholla desa Poncokusumo pagi itu terasa lebih hidup. Lampu-lampu kecil menyala, sajadah tersusun rapi, dan suasana khusyuk mulai terbangun. Kegiatan ini memang ditujukan untuk internal mahasiswa KKM, namun tetap terasa menyatu dengan denyut kehidupan desa. Kami mengaji bersama, saling menyimak, saling mengingatkan, dan merasakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dihidupi, apalagi di tengah proses belajar bermasyarakat seperti KKM.
Proses khataman berjalan sederhana, tanpa protokol yang rumit. Setiap mahasiswa mengambil bagian sesuai kemampuan, membaca dengan tartil, dan berusaha menjaga kekhusyukan. Tidak ada target cepat selesai, yang kami jaga justru ketenangan suasana. Di sela-sela lantunan ayat suci, sesekali terdengar suara alam pagi—ayam berkokok, angin yang berdesir pelan—seolah ikut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ini. Meskipun sasaran kegiatan adalah mahasiswa KKM sendiri, kehadiran warga yang ikut shalat Subuh berjamaah memberi nuansa hangat tersendiri. Senyum dan sapaan mereka setelah shalat menjadi bentuk dukungan yang sederhana, namun bermakna.
Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar mengaji bersama. Di tengah padatnya agenda KKM—dari program edukasi, sosial, hingga administrasi — khataman Al-Qur’an menjadi titik jeda yang menenangkan. Ia mengingatkan bahwa pengabdian tidak selalu tentang aktivitas fisik dan program besar, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan diri sendiri. Banyak dari kami yang merasakan suasana batin yang lebih ringan setelah kegiatan ini, seolah diberi energi baru untuk melanjutkan pengabdian di desa.
Dampak kegiatan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk angka atau capaian program, tetapi terasa secara personal. Bagi mahasiswa, khataman ini mempererat kebersamaan tim KKM, membangun rasa saling peduli, dan menumbuhkan kesadaran spiritual di tengah dinamika lapangan. Bagi lingkungan sekitar, meski secara tidak langsung, kehadiran mahasiswa yang aktif memakmurkan musholla memberi kesan positif bahwa KKM bukan hanya hadir untuk bekerja, tetapi juga untuk menyatu dengan nilai-nilai lokal dan religius masyarakat desa.
Menutup kegiatan, kami duduk sejenak di dalam musholla, berbagi kesan singkat dan doa bersama. Pagi perlahan beranjak terang, dan aktivitas desa mulai berjalan seperti biasa. Dari kegiatan sederhana ini, kami belajar bahwa kebermaknaan KKM tidak selalu lahir dari program yang besar dan ramai, tetapi dari niat yang tulus dan kebersamaan yang hangat. Harapan kami, semangat seperti ini bisa terus berlanjut, tidak hanya selama KKM berlangsung, tetapi juga ketika kami kembali ke kehidupan kampus dan masyarakat masing-masing.
Khataman Al-Qur’an di musholla desa Poncokusumo pada 4 Januari 2026 itu akan selalu kami ingat sebagai salah satu momen paling tenang selama KKM. Sebuah pagi yang mengajarkan kami untuk melambat sejenak, menata niat, dan melangkah kembali dengan hati yang lebih siap untuk mengabdi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar