Kegiatan asistensi mengajar ini dilaksanakan pada tanggal 5 - 23 Januari, dengan sasaran utama pelajar tingkat RA, MI, dan SD. Sejak awal, kami menyadari bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang penuh warna, rasa ingin tahu, dan energi yang tidak pernah habis. Peran kami sebagai mahasiswa KKM dalam kegiatan ini adalah sebagai guru pendamping yang terlibat langsung dalam proses belajar-mengajar. Bukan hanya membantu menyampaikan materi, tetapi juga hadir sebagai teman belajar yang berusaha memahami karakter dan kebutuhan setiap anak.
Hari-hari mengajar dimulai sejak pagi. Di RA Mathla'ul Huda, suasana kelas dipenuhi tawa polos dan cerita-cerita sederhana dari anak-anak. Mengajarkan huruf, angka, dan lagu-lagu edukatif menjadi tantangan tersendiri, karena dibutuhkan kesabaran dan kreativitas agar mereka tetap fokus. Di MI Mathla'ul Huda dan SDN 2 Argosuko, tantangannya berbeda. Anak-anak sudah mulai kritis dan berani bertanya. Kami mencoba menciptakan suasana belajar yang interaktif, mengajak mereka berdiskusi ringan, bermain sambil belajar, dan tidak takut untuk mencoba hal baru.
Kolaborasi dengan guru-guru setempat menjadi bagian penting dari kelancaran kegiatan ini. Para guru menyambut kami dengan terbuka, membimbing kami memahami kondisi kelas, serta memberi kepercayaan untuk terlibat langsung dalam pembelajaran. Dari mereka, kami belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga soal kepekaan, keteladanan, dan ketulusan dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Interaksi dengan orang tua dan masyarakat sekitar juga memperkaya pengalaman kami, karena kami melihat langsung bagaimana pendidikan menjadi harapan besar bagi masa depan anak-anak di desa ini.
Dampak dari kegiatan asistensi mengajar ini terasa dari kedua sisi. Bagi siswa, kehadiran kami memberi variasi baru dalam pembelajaran. Anak-anak terlihat lebih antusias, berani mencoba, dan tidak ragu berinteraksi. Meski waktu kebersamaan kami terbatas, kami berharap semangat belajar yang tumbuh dapat terus terjaga. Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga. Kami belajar mengelola kelas, berkomunikasi dengan anak-anak, serta memahami realitas pendidikan di tingkat dasar secara nyata, bukan sekadar teori di bangku kuliah.
Menjelang berakhirnya rangkaian kegiatan, saya menyadari bahwa asistensi mengajar ini bukan hanya tentang membantu sekolah, tetapi juga tentang membentuk diri kami sendiri. Ada rasa lelah, tentu saja, tetapi jauh lebih besar rasa syukur dan bahagia ketika melihat senyum anak-anak yang bersemangat belajar. Harapan kami, kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi program-program pendidikan lainnya di Desa Wangkal Lor. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pengabdian paling bermakna sering kali hadir dalam hal-hal sederhana: hadir di kelas, mendengarkan, dan menemani anak-anak meraih mimpi mereka, selangkah demi selangkah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar