Senin, 26 Januari 2026

Belajar Mengajar, Mengajar untuk Belajar: Cerita KKM di TPQ Roudlotul Mu’alimin


Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) menjadi salah satu momen yang paling kami nantikan selama masa perkuliahan. Bukan hanya karena kami turun langsung ke tengah masyarakat, tetapi karena di sanalah kami belajar memahami realitas kehidupan secara lebih dekat. Salah satu kegiatan yang paling berkesan selama pelaksanaan KKM pada 2–24 Januari adalah "Asistensi Mengajar Al-Qur’an di TPQ Roudlotul Mu’alimin", yang dilaksanakan di balai desa. Setiap sore, suasana balai desa berubah menjadi ruang belajar yang penuh dengan suara anak-anak mengaji, tawa kecil, dan semangat yang tulus.

Sejak hari pertama, kami disambut dengan hangat oleh para pengajar TPQ dan masyarakat sekitar. Anak-anak TPQ Roudlotul Mu’alimin datang dengan wajah polos dan antusias, membawa iqra’ atau mushaf Al-Qur’an mereka masing-masing. Sebagai mahasiswa yang berperan sebagai pengajar, kami berusaha menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran yang sudah ada. Tidak jarang kami harus belajar kembali, mengulang dasar-dasar tajwid, makhraj huruf, hingga cara menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Di sinilah kami sadar bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga soal kesabaran dan ketelatenan.

Proses kegiatan berjalan secara bertahap dan penuh dinamika. Ada anak-anak yang sudah lancar membaca Al-Qur’an, ada pula yang masih belajar mengenal huruf hijaiyah. Kami membagi peran secara fleksibel, saling membantu agar setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup. Kolaborasi dengan ustaz dan ustazah TPQ sangat membantu kami dalam memahami karakter masing-masing murid. Masyarakat sekitar pun memberikan dukungan penuh, mulai dari menyediakan tempat hingga memastikan anak-anak hadir tepat waktu. Interaksi sederhana seperti berbincang dengan orang tua murid setelah mengaji menjadi pengalaman berharga yang mempererat hubungan kami dengan warga desa.

Dampak dari kegiatan ini terasa dari dua arah. Bagi anak-anak TPQ, kehadiran kami menambah semangat belajar dan variasi dalam proses mengaji. Mereka menjadi lebih berani membaca dengan suara lantang dan tidak ragu bertanya ketika menemui kesulitan. Sementara bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan ini menjadi ruang refleksi yang nyata. Kami belajar berkomunikasi dengan anak-anak, memahami kondisi sosial masyarakat, serta menyadari bahwa ilmu yang kami miliki, sekecil apa pun, dapat memberi manfaat jika dibagikan dengan tulus. Pengalaman ini juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan empati yang tidak selalu kami dapatkan di ruang kelas.

Menjelang akhir kegiatan KKM, ada perasaan haru yang sulit diungkapkan. Balai desa yang awalnya terasa asing kini menjadi tempat penuh kenangan. Kami berharap kegiatan asistensi mengajar Al-Qur’an ini dapat terus berlanjut, baik oleh mahasiswa KKM berikutnya maupun oleh masyarakat setempat. Secara pribadi, pengalaman ini mengajarkan kami bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam bentuk besar. Terkadang, duduk bersama anak-anak, membimbing mereka membaca ayat demi ayat, justru menjadi bentuk pengabdian yang paling bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar